Pelantikan Pengurus KOMPALOK

Majelis Jemaat GKSBS Palembang "Siloam" Telah melantik Pengurus Komisi Pemuda Lokal Periode 2012 - 2015 Pada Tanggal 21 Oktober 2012

Senin, 29 Oktober 2012

Gallery Foto Temu Raya Pemuda Remaja GKSBS Seklasis Palembang Di Airsugihan


Klik Gambar Untuk Melihat Album

Rabu, 17 Oktober 2012

Untuk Direnungkan

“Tuhanlah penolongku!”
(Mazmur 124)
“Pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan yang menjadikan langit dan bumi.”
Membaca firman ini, teringat kembali akan suatu saat di perbukitan di candi Ratu Boko Prambanan. Hari yang telah sore dihiasi dengan matahari di ufuk barat yang memerah temaram membuat pemandangan menjadi sungguh indah. Memandang ke arah barat, ke arah Yogyakarta- terlihat sebuah pesawat tebang yang nampak kecil sekali lambat terbang semakin rendah dan semakin rendah. Langit terlihat luas sekali, dan sebaliknya, saya menjadi kecil sekali. Apalagi jika dilihat dari angkasa maka semakin kecil saja manusia. Manusia hanya seperti kutu-kutu di sebuah bola bulat yang besar. Bumi adalah planet ketiga dari delapan planet dalam Tata Surya. Diperkirakan usianya mencapai 4,6 milyar tahun. Bumi mempunyai diameter sepanjang 12.756 kilometer. Jarak antara Bumi dengan matahari adalah 149.6 juta kilometer atau 1 AU (ing: astronomical unit). Bumi mempunyai lapisan udara (atmosfer) dan medan magnet yang disebut (magnetosfer) yang melindung permukaan Bumi dari angin matahari, sinar ultraungu, dan radiasi dari luar angkasa. Lapisan udara ini menyelimuti bumi hingga ketinggian sekitar 700 kilometer. Lapisan udara ini dibagi menjadi Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer, dan Eksosfer. Lapisan ozon, setinggi 50 kilometer, berada di lapisan stratosfer dan mesosfer dan melindungi bumi dari sinar ultraungu. Semua yang menjadi bagian dari bumi begitu rupa memberi manfaat dan perlindungan kepada manusia dan kehidupan lain di bumi ini. Demikian juga kedudukannya yang tepat sehingga tak terlalu jauh tetapi juga tidak terrlalu dekat terhadap matahari telah memberi manfaat adanya kehidupan di bumi tetap bertahan dan berkembang.
Banyak orang sombong : Seharusnya dengan pengetahuan ini luluhlah tugu kesombongan manusia yang menganggap dirinya mampu mengatasi segala perkara. Sekarang dalam cara pandang dan kesadaran yang lebih luas maka manusia hanya terlihat seperti kutu-kutu kecil yang merayap di antara bulu-bulu sang bola.
Namun banyak juga orangyang hidup dalam ketakutan, sebab ia tak tahu kepada siapa ia akan berlindung dan bergantung. Ketika melihat dan merenungkan “Allah” selanjutnya muncul kesadaran betapa besar dan berhikmatnya Dia yang telah menjadikan bumi untuk ditempati manusia dan mahluk hidup lainnya.
Dia telah menjadikan segala sesuatunya dengan baik, teratur, dan bermanfaat bagi kehidupan yang juga Ia ciptakan. Terlebih selama ini ternyata Dia sajalah yang telah memberi keselamatan dan kesejahteraan manusia dan segala mahluk yang hidup di bumi. Dengan demikian kepada siapakah sepatutnya kit aberpengharapan? Tentu hanya kepada Tuhan saja. Dia yang telah begitu baik memelihara kehidupan kita di bumi, maka tak mungkin Dia membiarkan kita yang percaya dan berserah kepadaNya ditelan sang jahat. Demikianlah, kita belajar dari sang Pemazmur nyata bahwa ia terlebih dahulu mampu melihat bahwa Tuhan sajalah yang menajadi sumber pertolongan baginya, Dia yang begitu kuasa mencipta juga setia memelihara ciptaannya apalagi yang berpengharapan hanya kepadaNya. Tentu setelah melihat dan merenungkan kebesaran Tuhan yang demikian tak perlu kita takut sebab pemeliharaan Tuhan menjangkau dari yang sederhanan sampai yang sangat besar yang seringkali tak dapat dipikirkan oleh manusia. Mari kita sambut dan hadapi hari esok dengan dengan berani sebab kita tidak sendiri dan tetap berpengharapan bahwa hari di esok ada keindahan dan kebahagiaan yang Tuhan sediakan bagi semua orang. Selamat berjuang bersama dengan Tuhan pencipta langit dan bumi.

Hidup dan mati sebagai manusia

Hidup dan mati sebagai manusia
Jumadi, demikian namanya. Aku megenalnya sebagai sosok yang ramah dan selalu tampak bahagia. Setiap kali berjumpa dengannya selalu senyum itu mengembang di wajahnya. Meski usianya terbilang sudah lanjut namun dia bukan tipe orang yang mengagungkan ketuaannya untuk mendapat hormat. Paling tidak itu yang dia buktikan kepadaku. Pertama kali aku mengenalnya saat aku mengunjungi seorang dokter. Perkenalanku dengan dia terjadi secara tidak sengaja. Saat aku sedang di depan pintu pagar rumah bapak dokter, ia tengah duduk di becak seraya tersenyum kepadaku. Ia segera turun dari becaknya dan melongok ke dalam pagar, “Ada! Bapak-ibu ada di rumah, masuk saja!” katanya. “O, ya terima kasih pak!” sahutku. Setelah aku masuk, ia kembali duduk di becaknya. Saat aku sedang berbincang dengan sang dokter itu, aku bercerita tentang perjumpaanku dengan bapak yang di becak yang aku jumpai di depan pintu pagar tadi. Dari sang dokterlah aku tahu bahwa dia setiap hari mangkal di situ. “ ‘narik becak?!” tanyaku tak percaya. “Yah, begitulah! Memang usianya sudah tidak muda lagi. Pasti semua orang yang melihatnya akan berfikir bahwa tidak sepantasnya dia bekerja berat, apalagi ‘narik becak. Dari cerita sang dokter pulalah aku juga mengetahui bahwa anak-anaknya juga berfikir sama dengan aku, tetapi ia sendiri yang tidak mau. Alasannya, kalau nggak ‘narik badan malah terasa sakit semua!”
Sejak itu beberapa kali aku berjumpa dengannya, di tempat yang sama, di dalam becaknya di depan pintu pagar itu. Wajah dengan senyum keramahan yang sama juga selalu aku jumpai dari padanya. Mungkin karena itulah wajahnya tak pernah lekang dari ingatanku. Pada suatu kesempatan sesudah perjumpaanku dengan bapak Jumadi telah terjadi untuk yang kesekian kalinya, isteriku baru bercerita bahwa iapun mengenal bapak itu. “O ya?” sahutku setengah terkejut. “Kok kamu bisa kenal dia?” lanjutku bertanya penasaran. “Dulu, saat aku masih bekerja di Talang Betutu, aku pernah berjumpa dengannya saat di bis kota” katanya. Ia tinggal di sekitar daerah aku bekerja. Setiap hari ia naik bis kota dari rumahnya menuju kota, lalu mengambil becaknya dipangkalan becak. Setelah seharian ‘narik becak, sore harinya kembali ke pangkalan becak, menitipkan becaknya di sana dan ia akan pulang ke rumahnya dengan naik bis kota lagi. Begitu setiap hari ia lakukan”, jawab isteriku.
“Oh begitu ya” aku termangu-mangu mendengarkan cerita isteriku. Sejak saat itu ada sesuatu yang selalu mengusik dalam hatiku. Mengapa ya, setelah aku mendengar cerita-cerita tentang bapak Jumadi, aku semakin penasaran untuk tahu lebih jauh tentang dia? Apa karena setiap aku melihat dia selalu disertai rasa gundah bahwa dalam masa tuanya ia masih harus hidup dengan kerja berat sebagai penarik becak? Entahlah, aku sendiri tak tahu.
Tenggelam dalam tugas pekerjaanku, sejenak bapak Jumadi terlupakan. Hari-hari aku lalui dengan perhatianku, pikiranku semua terarah pada kerja dan tugasku. Lelah rasanya, terkadang muncul keinginan untuk sejenak beristirahat, namun aku tak dapat begitu saja meninggalkan pekerjaanku. Sedang kemanapun aku pergi tak dapat aku singkirkan dari pikiranku tentang semua hal dan masalah dalam pekerjaanku.
Suatu hari aku mengunjungi seseorang yang sedang dirawat di rumah sakit. Kenalan yang aku kunjungi kebetulan juga berusia cukup lanjut. Setelah ngobrol ngalor-ngidul ia menceritakan kehidupan rumah tangganya.
“Dulu saya kalo tidak suka dengan apa yang dibuat isteri, maka saya langsung marah! Ujarnya. “Namun sekarang saya tidak lagi berlaku demikian. Meski apa yang dibuatnya kurang berkenan kepada saya, saya tidak lagi marah kepadanya. Saya sadar berpuluh tahun saya hidup bersamanya. Ia selalu setia mendampingi, merawat dan melakukan kebaikan kepada saya. Begitu teganya saya marah kepadanya? Sekarang kami merasa hubungan kami semakin akrab dan terbuka”.
Aku hanya diam mendengarkan, seraya mata selalu tertuju pada bapak yang sedang bercerita ini. Setelah beberapa saat menghela nafas, sang bapak melanjutkan ceritanya.
Pernah saya iseng menyampaikan kepada isteri saya, “bu’ nanti yang dipanggil Tuhan biar bapa dulu yah?
“Tidak pak, biar ibu dulu! Nanti kalo bapak duluan ibu ikut siapa? Jawab sang ibu. Lalu bapak menimpali: “kan ada anak-anak, ibu bisa ikut mereka!” jawab saya. “Tidak, ibu ikut bapak saja!” sejenak kami terdiam dengan pikiran yang mengembara jauh.
Setelah itu, kepada isterinya ia mulai berkata-kata lagi : “Bapak bisa merasakan apa yang dirasakan ibu. Memang meski kita ikut anak sendiri, rasanya lebih enak hidup di rumah sendiri dengan dengan isteri atau suami. Lebih puas dan afdol rasanya”. Demikian ia berkisah, dibarengi ekspresi penuh kesungguhan dan mata yang berkaca-kaca sang bapak berkata-kata. Sedang aku manggut-manggut mendengarkannya. Dalam sinar mata yang berkaca-kaca itu, aku dapat melihat jauh ke dalam hati sang bapak. Ada sebentuk penyesalan akan sikapnya terhadap isteri di masa lalu, namun sekaligus bahagia dapat mengarungi hidup bersama berpuluh tahun dengan isteri yang setia.
Setelah cukup lama berbincang dengan sang bapak, aku pun berpamitan. Aku senang dengan perjumpaan itu, sebab setelah percakapan itu seakan mendapatkan pencerahan sekarang aku menyadari bagaimana perasaan dan pikiran orangtua. Orang tua akan lebih tenang tentram dan berbahagia dalam kehidupan mereka sendiri, mereka tidak mau bergantung pada orang lain, meski kepada anaknya sendiri.
Hal ini mengingatkanku terhadap rasa gundahku setiap kali aku mengingat bapak Jumadi. Kini aku mendapat jawab mengapa bapak Jumadi meski sudah tua tidak mau diam di rumah dalam naungan anaknya, ini bukan sekedar karena tubuhnya terasa sakit jika nggak ‘nari becak, melainkan jika dia tinggal diam dalam naungan anaknya maka ia akan kehilangan ketenangan, ketentraman dan kebahagiaannya. Sebaliknya dengan bekerja meski sebagai penarik becak ia mendapatkan ketenganannya, ketentramannya, kebahagiaannya bahkan mendapatkan arti seluruh hidupnya. Mulai saat itu, aku merasa lega. Tak lagi aku mengingat bapak Jumadi sebagai orang yang menderita. Sebaliknya aku menjumpai dia sebagai orang yang paling berbahagia sebab sampai masa tuanya ia mendapatkan semua yang ia inginkan.
Kesadaran ini membuat aku ingin sekali berjumpa dengannya. Aku bertanya-tanya kapan ya aku dpaat berjumpa dengannya? Namun belum kerinduanku itu terpuaskan, aku mendengar berita yang membuatku kembali gundah. Bapak Jumadi telah tiada. Singkat cerita, seperti biasa ia naik bis kota ke tempat ia biasa ‘narik becak. Turun dari bis kota ia pergi ke pangkalan becak tempat dimana ia menitipkan becaknya. Sedang menyeberang jalan, sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi menabraknya. Tubuh tua yang tak seberapa kuat itu terpental dengan luka parah. Ia sempat dibawa ke Rumah Sakit, namun jiwanya tak tertolong. Mendengar berita itu, aku tak dapat berkata apa-apa. Tubuhku gemetar, lidahku kelu. Memang aku dapat menahan air mataku, namun aku tak dapat menahan rasa dukaku. Hatiku menangis. Jiwaku berontak, mengapa kebahagiaan bapak Jumadi mesti ditutup dengan kematian yang tragis? Tidakkah ia diberi anugerah dengan cara mati yang indah?
Akhirnya dalam hati aku hanya dapat berkata : Selamat jalan bapak Jumadi. Meski kepergianmu melalui cara yang tragis, aku ucapkan selamat sebab semasa hidupmu engkau mendapatkan ketenangan, ketentraman, kebahagiaan serta makna hidup sejati! Salute untukmu bapak!
Kini tinggallah diriku dengan kenangan tentang bapak Jumadi. Misteri peristiwa ini membuat aku harus kembali mencari jawab untuk semua gundahku. Lorong-lorong kehidupan harus aku telusuri untuk menemukan yang dapat menghiburkan hatiku, memuaskan jiwaku! Bilamanakah aku dapat seperti bapak Jumadi?

Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (GKSBS) Palembang Siloam

  1. Keterkaitan dengan GKJ
Perkembangan GKSBS Palembang Siloam tidak bisa dilepaskan dari Gereja Kristen Jawa. Keterkaitan GKSBS Palembang Siloam dengan GKJ pertama-tama ada pada latar belakang kebanyakan jemaat GKSBS Palembang Siloam yang berlatar belakang suku Jawa dan sebelumnya juga adalah jemaat GKJ di Jawa. Selanjutnya berkenaan dengan peran GKJ yang begitu besar dalam penghimpunan dan pemeliharaan persekutuan di Sumatera Selatan[1]. Secara Sinodal, sebelum akhirnya GKSBS menjadi Sinode sendiri (th. 1987) GKSBS adalah bagian dari Sinode GKJ yang biasa disebut dengan Sinode Wilayah I GKJ (yang wilayahnya meliputi : Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Jambi). Sejarah inilah yang sedikit banyak mempengaruhi model begereja di GKSBS sangat mirip dengan GKJ.
  1. Rumah Bersama
Wujud persekutuan yang menjadi cikal bakal GKSBS Palembang Siloam nampak jelas sejak tahun 1953. Jemaat ini terdiri dari orang-orang Kristen Jawa yang tinggal dan bekerja di kota Palembang. Mula-mula ibadah dilakukan dari rumah ke rumah. Namun dikemudian hari hal ini dipandang tidak memungkinkan lagi sebab semakin banyak jemaat yang bergabung dalam persekutuan ini. Oleh kemurahan dari Gereja Gereformeed Plaju di Palembang, jemaat inipun mendapat tempat ibadah di Gereja Putih, meski harus bergantian dengan HKBP. Singkat cerita dengan semangat berskutu yang besar dan didasarkan dengan tata peraturan GKJ maka pada tahun 1956 diresmikanlah Jemaat ini menjadi Gereja Dewasa.
Sejak awal pendewasaannya, Gereja ini telah menunjukkan wawasan yang cukup luas. Hal ditandai pertama-tama dalam penggunaan nama Gereja yang tidak mencantumkan nama Gereja Kristen Jawa, melainkan dengan menggunakan nama Gereja Kristen Palembang Siloam. Yang kedua, dengan menggantikan penggunaan bahasa bahasa Jawa ke bahasa Indonesia dalam hal administrasi/surat menyurat, dan memperbanyak penggunaan bahasa Indonesia dalam pelayanan-pelayanan ibadah. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan pemahaman orang bahwa GKP Siloam adalah Gereja suku. Selanjutnya dengan pilihan sikap ini diharapkan tidak menutup kemungkinan jemaat yang tidak berlatar belakang suku Jawa dan atau Gereja Jawa dapat bergabung di dalamnya. Masih dalam kerangka menghayati konteksnya, maka dalam Sidang IV Sinode GKSBS di Bandar Lampung diputuskan bahwa nama Gereja-Gereja yang ada dalam Sinode GKSBS tidak lagi menggunakan nama yang berlain-lainan[2]. Menindaklanjuti keputusan itu maka nama GKP Siloam pun berganti nama menjadi GKSBS Palembang Siloam.
Jemaat GKSBS Palembang Siloam pada umumnya adalah para perantau karean tugas pekerjaan dan atau yang mencoba peruntungan hidup di kota Palembang. Tekad yang kuat untuk mengubah hidup membuat mereka mengambil resiko meninggalkan sanak keluarga dan tanah kelahiran mereka. Segala resiko yang mereka harus hadapi membuat mereka berharap bahwa sesampainya di Palembang, mereka dapat berjumpa dengan saudara. Perjumpaan satu dengan lain dalam suasana kesenasiban teryata membawa dampak positip. Dalam kesenasiban inilah kebersamaan dihayati sampai rasa persaudaraanlah yang bertumbuh. Di sinilah letak kekhususan GKSBS Palembang Siloam sebagai rumah bersama, sebab di sinilah mereka yang Kristen (dari Jawa dan non Jawa) menemukan saudara Kristen. Dalam hal ini Gereja menjadi tempat mereka bernaung, menjadi tempat mereka bergumul, dan menjadi tempat bersama menaruh harapan. Ikatan persaudaraan dieratkan dan semakin kuat sebab pada umumnya mereka memiliki perasaan, pergumulan dan pengharapan yang sama. Di sinilah kekhasan lainnya dari GKSBS Palembang Siloam yakni sebagai “Gereja para perantau”. Dalam penghayatan seperti inilah peran dan fungsi GKSBS Palembang Siloam sebagai rumah bersama sangat dirasakan.
  1. Pemenuhan Panggilan
Dalam rangka pemenuhan panggilannya sebagai Gereja, maka GKSBS Palembang Siloam memahami dan mengelompokan pemenuhan panggilan Gereja itu dalam dua kelompok besar, yakni: panggilan ke dalam dan panggilan keluar.
Panggilan pertama yakni panggilan ke dalam dipahami sebagai usaha untuk membangun jemaat (persekutuan), menguatkan dan memberdayakannya dengan berbagai pelayanan ibadah dan pembinaan. Sedang panggilan yang kedua yakni penggilan keluar adalah perwartaan Injil yang dinyatakan dengan berbagai kegiatan kesaksian dan pelayanan yang membawa dampak (sesuai dengan dengan nilai-nilai dan tanda-tanda kerajaan Allah) bagi sebanyak mungkin orang (yang tidak termasuk sebagai jemaat GKSBS Palembang Siloam) [3]. Bentuk dan wujud dari kegiatannya beraneka ragam, masing-masing bergantung pada konteks pergumulannya. Contoh : salah satu perwujudan pemenuhan panggilan keluar yang masih dilaksanakan sampai dengan sekarang adalah adanya Badan Pendidikan Perguruan Kristen Palembang. Sebuah sekolah yang didirikan dan dikelola bekerjasama dengan dua Gereja lain yakni HKBP Palembang dan GPIB Imanuel. Awal pergumulannya sangat dekat dengan keterpanggilan Gereja terhadap orang-orang kota Palembang yang saat itu minim sarana (sekolah) pengembangan kualitas manusia. Dalam konteks inilah Gereja sangat ingin kehadirannya memberi dampak positip pada warga. Tujuannya jelas yakni Gereja ingin turut membangun anak bangsa menjadi anak bangsa yang cerdas dan bekualitas.
4. Menjadi Gereja Daerah
Pasca Sidang IV Sinode GKSBS langkah GKSBS sebagai Gereja yang menghayati kehadirannya di Sumatera Bagian Selatan semakin nyata. Bayang-bayang ke-GKJ –an secara perlahan namun pasti mulai pudar dan digantikan dengan gambaran GKSBS sebagai Gereja yang memenuhi panggilannya dalam konteks Sumbagsel. Misi GKSBS menjadi Gereja Daerah yang menempatkan Sumbagsel sebagai rumah bersama adalah wujud nyata dari refleksi kekinian tentang siapa GKSBS di antara masyarakat Sumbagsel. Misi ini hendak menunjukkan keinginan dan kesadaran GKSBS untuk menjadikan dirinya sebagai bagian masyarakat Sumbagsel, dan demikian pula sebaliknya. Dalam terang kesadaran Misi ini pulalah GKSBS Palembang Siloam membuka celah-celah kerjasama Gereja dengan masyarakat di sekitar Gereja. Gereja membuka diri untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Untuk mensukseskan misi ini maka Gereja terus menerus mendorong jemaat sebagai individu untuk dapat berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dimana ia tinggal.
5. Sebagai Rumah bersama yang semakin nyata
Entah bagaimana ini terjadi, sampai dengan saat meski anggota jemaatnya tidak lagi hanya terdiri dari orang Jawa dan atau berasal dari GKJ, masih saja banyak orang mengenal GKSBS Palembang Siloam sebagai Gereja Jawa. Hal ini terbukti kala ada Perayaan Natal bersama se-kota Palembang ataupun se-Provinsi Sumsel, maka GKSBS Palembang Siloam-lah yang diminta untuk menampilkan kesenian khas Jawa. Jika kita memandangnya dari semangat awal para pendahulu GKSBS Palembang Siloam, semuanya tadi menjadi tantangan untuk segera diubahkan. Namun jika semua hal tadi direnungkan dalam konteks kekinian maka ada sisi positip yang patut dihargai, yakni bahwa penerimaan orang-orang lain terhadap GKSBS Palembang Siloam terjadi malah dalam identitas “kejawaannya”. Tentu ini menjadi hal baru yang juga baik untuk gumuli yakni bahwa nyatanya tanpa kehilangan identitas, jemaat dapat diterima dan bersekutu dengan orang-orang Kristen lain. Kehadirannya (GKSBS yang dipandang orang sebagai “Jawa”[4]) justru memperkaya Gereja-Gereja dalam khasanah Gereja yang beraneka ragam, unik dan menarik. Dengan demikian kekhasannya GKSBS Palembang Siloam (‘yang dipandang jawa’) justru membuka peluang untuk mewujudkan semangat dan maksud dari perintis GKSBS mula-mula.
Dalam hal persaudaraan, seperti telah disinggung di atas bahwa sekarang ini Jemaat GKSBS Palembang Siloam tidak hanya terdiri dari orang-orang yang berlatar belakang suku Jawa. Ada banyak jemaat dari berbagai suku di Indonesia yang bukan sekedar bergereja di GKSBS palembang Siloam namun telah menjadikannya sebagai rumah dan keluarga mereka. Ini artinya bahwa GKSBS Palembang Siloam telah semakin mampu menempatkan semangat persaudaraan dan kekeluargaan sebagai pengikat jemaat dalam Gereja mengatasi sekat kesukuan.