“Tuhanlah penolongku!”
(Mazmur 124)
Membaca firman ini, teringat kembali akan suatu saat di perbukitan di candi Ratu Boko Prambanan. Hari yang telah sore dihiasi dengan matahari di ufuk barat
yang memerah temaram membuat pemandangan menjadi sungguh indah.
Memandang ke arah barat, ke arah Yogyakarta- terlihat sebuah pesawat
tebang yang nampak kecil sekali lambat terbang semakin rendah dan
semakin rendah. Langit terlihat luas sekali, dan sebaliknya, saya
menjadi kecil sekali. Apalagi jika dilihat dari angkasa maka semakin
kecil saja manusia. Manusia hanya seperti kutu-kutu di sebuah bola bulat
yang besar. Bumi adalah planet ketiga dari delapan planet dalam Tata Surya. Diperkirakan usianya mencapai 4,6 milyar tahun. Bumi mempunyai diameter sepanjang 12.756 kilometer. Jarak antara Bumi dengan matahari adalah 149.6 juta kilometer atau 1 AU (ing: astronomical unit). Bumi mempunyai lapisan udara (atmosfer) dan medan magnet yang disebut (magnetosfer) yang melindung permukaan Bumi dari angin matahari,
sinar ultraungu, dan radiasi dari luar angkasa. Lapisan udara ini
menyelimuti bumi hingga ketinggian sekitar 700 kilometer. Lapisan udara
ini dibagi menjadi Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer, dan Eksosfer. Lapisan ozon, setinggi 50 kilometer, berada di lapisan stratosfer dan mesosfer dan melindungi bumi dari sinar ultraungu.
Semua yang menjadi bagian dari bumi begitu rupa memberi manfaat dan
perlindungan kepada manusia dan kehidupan lain di bumi ini. Demikian juga kedudukannya yang tepat sehingga tak terlalu jauh tetapi juga tidak terrlalu dekat terhadap matahari telah memberi manfaat adanya kehidupan di bumi tetap bertahan dan berkembang.
Banyak
orang sombong : Seharusnya dengan pengetahuan ini luluhlah tugu
kesombongan manusia yang menganggap dirinya mampu mengatasi segala
perkara. Sekarang dalam cara pandang dan kesadaran yang lebih luas maka
manusia hanya terlihat seperti kutu-kutu kecil yang merayap di antara
bulu-bulu sang bola.
Namun
banyak juga orangyang hidup dalam ketakutan, sebab ia tak tahu kepada
siapa ia akan berlindung dan bergantung. Ketika melihat dan merenungkan
“Allah” selanjutnya muncul kesadaran betapa besar dan berhikmatnya Dia
yang telah menjadikan bumi untuk ditempati manusia dan mahluk hidup
lainnya.
Dia
telah menjadikan segala sesuatunya dengan baik, teratur, dan bermanfaat
bagi kehidupan yang juga Ia ciptakan. Terlebih selama ini ternyata Dia
sajalah yang telah memberi keselamatan dan kesejahteraan manusia dan
segala mahluk yang hidup di bumi. Dengan demikian kepada siapakah
sepatutnya kit aberpengharapan? Tentu hanya kepada Tuhan saja. Dia yang
telah begitu baik memelihara kehidupan kita di bumi, maka tak mungkin
Dia membiarkan kita yang percaya dan berserah kepadaNya ditelan sang
jahat. Demikianlah, kita belajar dari sang Pemazmur nyata bahwa ia
terlebih dahulu mampu melihat bahwa Tuhan sajalah yang menajadi sumber
pertolongan baginya, Dia yang begitu kuasa
mencipta juga setia memelihara ciptaannya apalagi yang berpengharapan
hanya kepadaNya. Tentu setelah melihat dan merenungkan kebesaran Tuhan
yang demikian tak perlu kita takut sebab
pemeliharaan Tuhan menjangkau dari yang sederhanan sampai yang sangat
besar yang seringkali tak dapat dipikirkan oleh manusia. Mari kita
sambut dan hadapi hari esok dengan dengan berani sebab kita tidak
sendiri dan tetap berpengharapan bahwa hari di esok ada keindahan dan
kebahagiaan yang Tuhan sediakan bagi semua orang. Selamat berjuang
bersama dengan Tuhan pencipta langit dan bumi.







0 komentar:
Posting Komentar