Hidup dan mati sebagai manusia
Jumadi,
demikian namanya. Aku megenalnya sebagai sosok yang ramah dan selalu
tampak bahagia. Setiap kali berjumpa dengannya selalu senyum itu
mengembang di wajahnya. Meski usianya terbilang sudah lanjut namun dia
bukan tipe orang yang mengagungkan ketuaannya untuk mendapat hormat.
Paling tidak itu yang dia buktikan kepadaku. Pertama kali aku
mengenalnya saat aku mengunjungi seorang dokter. Perkenalanku dengan dia
terjadi secara tidak sengaja. Saat aku sedang di depan pintu pagar
rumah bapak dokter, ia tengah duduk di becak seraya tersenyum kepadaku.
Ia segera turun dari becaknya dan melongok ke dalam pagar, “Ada!
Bapak-ibu ada di rumah, masuk saja!” katanya. “O, ya terima kasih pak!”
sahutku. Setelah aku masuk, ia kembali duduk di becaknya. Saat aku
sedang berbincang dengan sang dokter itu, aku bercerita tentang
perjumpaanku dengan bapak yang di becak yang aku jumpai di depan pintu
pagar tadi. Dari sang dokterlah aku tahu bahwa dia
setiap hari mangkal di situ. “ ‘narik becak?!” tanyaku tak percaya.
“Yah, begitulah! Memang usianya sudah tidak muda lagi. Pasti semua orang
yang melihatnya akan berfikir bahwa tidak sepantasnya dia bekerja
berat, apalagi ‘narik becak. Dari cerita sang dokter pulalah aku juga
mengetahui bahwa anak-anaknya juga berfikir sama dengan aku, tetapi ia
sendiri yang tidak mau. Alasannya, kalau nggak ‘narik badan malah terasa
sakit semua!”
Sejak itu beberapa kali aku berjumpa dengannya, di tempat yang sama, di dalam becaknya di depan pintu pagar itu. Wajah
dengan senyum keramahan yang sama juga selalu aku jumpai dari padanya.
Mungkin karena itulah wajahnya tak pernah lekang dari ingatanku. Pada
suatu kesempatan sesudah perjumpaanku dengan bapak Jumadi telah terjadi
untuk yang kesekian kalinya, isteriku baru bercerita bahwa iapun
mengenal bapak itu. “O ya?” sahutku setengah terkejut. “Kok kamu bisa
kenal dia?” lanjutku bertanya penasaran. “Dulu, saat aku masih bekerja
di Talang Betutu, aku pernah berjumpa dengannya saat di bis kota”
katanya. Ia tinggal di sekitar daerah aku bekerja. Setiap hari ia naik
bis kota dari rumahnya menuju kota, lalu mengambil becaknya dipangkalan
becak. Setelah seharian ‘narik becak, sore harinya kembali ke pangkalan
becak, menitipkan becaknya di sana dan ia akan pulang ke rumahnya dengan
naik bis kota lagi. Begitu setiap hari ia lakukan”, jawab isteriku.
“Oh
begitu ya” aku termangu-mangu mendengarkan cerita isteriku. Sejak saat
itu ada sesuatu yang selalu mengusik dalam hatiku. Mengapa ya, setelah
aku mendengar cerita-cerita tentang bapak Jumadi, aku semakin penasaran
untuk tahu lebih jauh tentang dia? Apa karena setiap aku melihat dia
selalu disertai rasa gundah bahwa dalam masa tuanya ia masih harus hidup
dengan kerja berat sebagai penarik becak? Entahlah, aku sendiri tak tahu.
Tenggelam
dalam tugas pekerjaanku, sejenak bapak Jumadi terlupakan. Hari-hari aku
lalui dengan perhatianku, pikiranku semua terarah pada kerja dan
tugasku. Lelah rasanya, terkadang muncul
keinginan untuk sejenak beristirahat, namun aku tak dapat begitu saja
meninggalkan pekerjaanku. Sedang kemanapun aku pergi tak dapat aku
singkirkan dari pikiranku tentang semua hal dan masalah dalam
pekerjaanku.
Suatu
hari aku mengunjungi seseorang yang sedang dirawat di rumah sakit.
Kenalan yang aku kunjungi kebetulan juga berusia cukup lanjut. Setelah
ngobrol ngalor-ngidul ia menceritakan kehidupan rumah tangganya.
“Dulu saya kalo tidak suka dengan apa yang dibuat isteri, maka saya langsung marah! Ujarnya. “Namun
sekarang saya tidak lagi berlaku demikian. Meski apa yang dibuatnya
kurang berkenan kepada saya, saya tidak lagi marah kepadanya. Saya sadar
berpuluh tahun saya hidup bersamanya. Ia selalu setia mendampingi,
merawat dan melakukan kebaikan kepada saya. Begitu teganya saya marah
kepadanya? Sekarang kami merasa hubungan kami semakin akrab dan
terbuka”.
Aku
hanya diam mendengarkan, seraya mata selalu tertuju pada bapak yang
sedang bercerita ini. Setelah beberapa saat menghela nafas, sang bapak
melanjutkan ceritanya.
Pernah saya iseng menyampaikan kepada isteri saya, “bu’ nanti yang dipanggil Tuhan biar bapa dulu yah?
“Tidak pak, biar ibu dulu! Nanti kalo bapak duluan ibu ikut siapa? Jawab
sang ibu. Lalu bapak menimpali: “kan ada anak-anak, ibu bisa ikut
mereka!” jawab saya. “Tidak, ibu ikut bapak saja!” sejenak kami terdiam
dengan pikiran yang mengembara jauh.
Setelah
itu, kepada isterinya ia mulai berkata-kata lagi : “Bapak bisa
merasakan apa yang dirasakan ibu. Memang meski kita ikut anak sendiri,
rasanya lebih enak hidup di rumah sendiri dengan dengan
isteri atau suami. Lebih puas dan afdol rasanya”. Demikian ia berkisah,
dibarengi ekspresi penuh kesungguhan dan mata yang berkaca-kaca sang
bapak berkata-kata. Sedang aku manggut-manggut mendengarkannya. Dalam
sinar mata yang berkaca-kaca itu, aku dapat melihat jauh ke dalam hati sang bapak. Ada sebentuk penyesalan akan sikapnya terhadap isteri di masa lalu, namun sekaligus bahagia dapat mengarungi hidup bersama berpuluh tahun dengan isteri yang setia.
Setelah
cukup lama berbincang dengan sang bapak, aku pun berpamitan. Aku senang
dengan perjumpaan itu, sebab setelah percakapan itu seakan mendapatkan
pencerahan sekarang aku menyadari bagaimana perasaan dan pikiran
orangtua. Orang tua akan lebih tenang tentram dan berbahagia dalam
kehidupan mereka sendiri, mereka tidak mau bergantung pada orang lain,
meski kepada anaknya sendiri.
Hal
ini mengingatkanku terhadap rasa gundahku setiap kali aku mengingat
bapak Jumadi. Kini aku mendapat jawab mengapa bapak Jumadi meski sudah
tua tidak mau diam di rumah dalam naungan anaknya, ini bukan sekedar
karena tubuhnya terasa sakit jika nggak ‘nari becak, melainkan jika dia
tinggal diam dalam naungan anaknya maka ia akan kehilangan ketenangan,
ketentraman dan kebahagiaannya. Sebaliknya dengan bekerja meski sebagai
penarik becak ia mendapatkan ketenganannya, ketentramannya,
kebahagiaannya bahkan mendapatkan arti seluruh hidupnya. Mulai saat itu,
aku merasa lega. Tak lagi aku mengingat bapak Jumadi sebagai orang yang
menderita. Sebaliknya aku menjumpai dia sebagai orang yang paling
berbahagia sebab sampai masa tuanya ia mendapatkan semua yang ia
inginkan.
Kesadaran
ini membuat aku ingin sekali berjumpa dengannya. Aku bertanya-tanya
kapan ya aku dpaat berjumpa dengannya? Namun belum kerinduanku itu
terpuaskan, aku mendengar berita yang membuatku kembali gundah. Bapak
Jumadi telah tiada. Singkat cerita, seperti biasa ia naik bis kota ke
tempat ia biasa ‘narik becak. Turun dari bis kota ia pergi ke pangkalan
becak tempat dimana ia menitipkan becaknya. Sedang menyeberang jalan,
sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi menabraknya. Tubuh tua yang
tak seberapa kuat itu terpental dengan luka parah. Ia sempat dibawa ke
Rumah Sakit, namun jiwanya tak tertolong. Mendengar berita itu, aku tak dapat berkata apa-apa. Tubuhku
gemetar, lidahku kelu. Memang aku dapat menahan air mataku, namun aku
tak dapat menahan rasa dukaku. Hatiku menangis. Jiwaku berontak, mengapa
kebahagiaan bapak Jumadi mesti ditutup dengan kematian yang tragis?
Tidakkah ia diberi anugerah dengan cara mati yang indah?
Akhirnya
dalam hati aku hanya dapat berkata : Selamat jalan bapak Jumadi. Meski
kepergianmu melalui cara yang tragis, aku ucapkan selamat sebab semasa
hidupmu engkau mendapatkan ketenangan, ketentraman, kebahagiaan serta
makna hidup sejati! Salute untukmu bapak!
Kini tinggallah diriku dengan kenangan tentang bapak Jumadi. Misteri
peristiwa ini membuat aku harus kembali mencari jawab untuk semua
gundahku. Lorong-lorong kehidupan harus aku telusuri untuk menemukan
yang dapat menghiburkan hatiku, memuaskan jiwaku! Bilamanakah aku dapat
seperti bapak Jumadi?