Rabu, 17 Oktober 2012

Hidup dan mati sebagai manusia

Hidup dan mati sebagai manusia
Jumadi, demikian namanya. Aku megenalnya sebagai sosok yang ramah dan selalu tampak bahagia. Setiap kali berjumpa dengannya selalu senyum itu mengembang di wajahnya. Meski usianya terbilang sudah lanjut namun dia bukan tipe orang yang mengagungkan ketuaannya untuk mendapat hormat. Paling tidak itu yang dia buktikan kepadaku. Pertama kali aku mengenalnya saat aku mengunjungi seorang dokter. Perkenalanku dengan dia terjadi secara tidak sengaja. Saat aku sedang di depan pintu pagar rumah bapak dokter, ia tengah duduk di becak seraya tersenyum kepadaku. Ia segera turun dari becaknya dan melongok ke dalam pagar, “Ada! Bapak-ibu ada di rumah, masuk saja!” katanya. “O, ya terima kasih pak!” sahutku. Setelah aku masuk, ia kembali duduk di becaknya. Saat aku sedang berbincang dengan sang dokter itu, aku bercerita tentang perjumpaanku dengan bapak yang di becak yang aku jumpai di depan pintu pagar tadi. Dari sang dokterlah aku tahu bahwa dia setiap hari mangkal di situ. “ ‘narik becak?!” tanyaku tak percaya. “Yah, begitulah! Memang usianya sudah tidak muda lagi. Pasti semua orang yang melihatnya akan berfikir bahwa tidak sepantasnya dia bekerja berat, apalagi ‘narik becak. Dari cerita sang dokter pulalah aku juga mengetahui bahwa anak-anaknya juga berfikir sama dengan aku, tetapi ia sendiri yang tidak mau. Alasannya, kalau nggak ‘narik badan malah terasa sakit semua!”
Sejak itu beberapa kali aku berjumpa dengannya, di tempat yang sama, di dalam becaknya di depan pintu pagar itu. Wajah dengan senyum keramahan yang sama juga selalu aku jumpai dari padanya. Mungkin karena itulah wajahnya tak pernah lekang dari ingatanku. Pada suatu kesempatan sesudah perjumpaanku dengan bapak Jumadi telah terjadi untuk yang kesekian kalinya, isteriku baru bercerita bahwa iapun mengenal bapak itu. “O ya?” sahutku setengah terkejut. “Kok kamu bisa kenal dia?” lanjutku bertanya penasaran. “Dulu, saat aku masih bekerja di Talang Betutu, aku pernah berjumpa dengannya saat di bis kota” katanya. Ia tinggal di sekitar daerah aku bekerja. Setiap hari ia naik bis kota dari rumahnya menuju kota, lalu mengambil becaknya dipangkalan becak. Setelah seharian ‘narik becak, sore harinya kembali ke pangkalan becak, menitipkan becaknya di sana dan ia akan pulang ke rumahnya dengan naik bis kota lagi. Begitu setiap hari ia lakukan”, jawab isteriku.
“Oh begitu ya” aku termangu-mangu mendengarkan cerita isteriku. Sejak saat itu ada sesuatu yang selalu mengusik dalam hatiku. Mengapa ya, setelah aku mendengar cerita-cerita tentang bapak Jumadi, aku semakin penasaran untuk tahu lebih jauh tentang dia? Apa karena setiap aku melihat dia selalu disertai rasa gundah bahwa dalam masa tuanya ia masih harus hidup dengan kerja berat sebagai penarik becak? Entahlah, aku sendiri tak tahu.
Tenggelam dalam tugas pekerjaanku, sejenak bapak Jumadi terlupakan. Hari-hari aku lalui dengan perhatianku, pikiranku semua terarah pada kerja dan tugasku. Lelah rasanya, terkadang muncul keinginan untuk sejenak beristirahat, namun aku tak dapat begitu saja meninggalkan pekerjaanku. Sedang kemanapun aku pergi tak dapat aku singkirkan dari pikiranku tentang semua hal dan masalah dalam pekerjaanku.
Suatu hari aku mengunjungi seseorang yang sedang dirawat di rumah sakit. Kenalan yang aku kunjungi kebetulan juga berusia cukup lanjut. Setelah ngobrol ngalor-ngidul ia menceritakan kehidupan rumah tangganya.
“Dulu saya kalo tidak suka dengan apa yang dibuat isteri, maka saya langsung marah! Ujarnya. “Namun sekarang saya tidak lagi berlaku demikian. Meski apa yang dibuatnya kurang berkenan kepada saya, saya tidak lagi marah kepadanya. Saya sadar berpuluh tahun saya hidup bersamanya. Ia selalu setia mendampingi, merawat dan melakukan kebaikan kepada saya. Begitu teganya saya marah kepadanya? Sekarang kami merasa hubungan kami semakin akrab dan terbuka”.
Aku hanya diam mendengarkan, seraya mata selalu tertuju pada bapak yang sedang bercerita ini. Setelah beberapa saat menghela nafas, sang bapak melanjutkan ceritanya.
Pernah saya iseng menyampaikan kepada isteri saya, “bu’ nanti yang dipanggil Tuhan biar bapa dulu yah?
“Tidak pak, biar ibu dulu! Nanti kalo bapak duluan ibu ikut siapa? Jawab sang ibu. Lalu bapak menimpali: “kan ada anak-anak, ibu bisa ikut mereka!” jawab saya. “Tidak, ibu ikut bapak saja!” sejenak kami terdiam dengan pikiran yang mengembara jauh.
Setelah itu, kepada isterinya ia mulai berkata-kata lagi : “Bapak bisa merasakan apa yang dirasakan ibu. Memang meski kita ikut anak sendiri, rasanya lebih enak hidup di rumah sendiri dengan dengan isteri atau suami. Lebih puas dan afdol rasanya”. Demikian ia berkisah, dibarengi ekspresi penuh kesungguhan dan mata yang berkaca-kaca sang bapak berkata-kata. Sedang aku manggut-manggut mendengarkannya. Dalam sinar mata yang berkaca-kaca itu, aku dapat melihat jauh ke dalam hati sang bapak. Ada sebentuk penyesalan akan sikapnya terhadap isteri di masa lalu, namun sekaligus bahagia dapat mengarungi hidup bersama berpuluh tahun dengan isteri yang setia.
Setelah cukup lama berbincang dengan sang bapak, aku pun berpamitan. Aku senang dengan perjumpaan itu, sebab setelah percakapan itu seakan mendapatkan pencerahan sekarang aku menyadari bagaimana perasaan dan pikiran orangtua. Orang tua akan lebih tenang tentram dan berbahagia dalam kehidupan mereka sendiri, mereka tidak mau bergantung pada orang lain, meski kepada anaknya sendiri.
Hal ini mengingatkanku terhadap rasa gundahku setiap kali aku mengingat bapak Jumadi. Kini aku mendapat jawab mengapa bapak Jumadi meski sudah tua tidak mau diam di rumah dalam naungan anaknya, ini bukan sekedar karena tubuhnya terasa sakit jika nggak ‘nari becak, melainkan jika dia tinggal diam dalam naungan anaknya maka ia akan kehilangan ketenangan, ketentraman dan kebahagiaannya. Sebaliknya dengan bekerja meski sebagai penarik becak ia mendapatkan ketenganannya, ketentramannya, kebahagiaannya bahkan mendapatkan arti seluruh hidupnya. Mulai saat itu, aku merasa lega. Tak lagi aku mengingat bapak Jumadi sebagai orang yang menderita. Sebaliknya aku menjumpai dia sebagai orang yang paling berbahagia sebab sampai masa tuanya ia mendapatkan semua yang ia inginkan.
Kesadaran ini membuat aku ingin sekali berjumpa dengannya. Aku bertanya-tanya kapan ya aku dpaat berjumpa dengannya? Namun belum kerinduanku itu terpuaskan, aku mendengar berita yang membuatku kembali gundah. Bapak Jumadi telah tiada. Singkat cerita, seperti biasa ia naik bis kota ke tempat ia biasa ‘narik becak. Turun dari bis kota ia pergi ke pangkalan becak tempat dimana ia menitipkan becaknya. Sedang menyeberang jalan, sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi menabraknya. Tubuh tua yang tak seberapa kuat itu terpental dengan luka parah. Ia sempat dibawa ke Rumah Sakit, namun jiwanya tak tertolong. Mendengar berita itu, aku tak dapat berkata apa-apa. Tubuhku gemetar, lidahku kelu. Memang aku dapat menahan air mataku, namun aku tak dapat menahan rasa dukaku. Hatiku menangis. Jiwaku berontak, mengapa kebahagiaan bapak Jumadi mesti ditutup dengan kematian yang tragis? Tidakkah ia diberi anugerah dengan cara mati yang indah?
Akhirnya dalam hati aku hanya dapat berkata : Selamat jalan bapak Jumadi. Meski kepergianmu melalui cara yang tragis, aku ucapkan selamat sebab semasa hidupmu engkau mendapatkan ketenangan, ketentraman, kebahagiaan serta makna hidup sejati! Salute untukmu bapak!
Kini tinggallah diriku dengan kenangan tentang bapak Jumadi. Misteri peristiwa ini membuat aku harus kembali mencari jawab untuk semua gundahku. Lorong-lorong kehidupan harus aku telusuri untuk menemukan yang dapat menghiburkan hatiku, memuaskan jiwaku! Bilamanakah aku dapat seperti bapak Jumadi?

0 komentar:

Posting Komentar